TABIR PAHLAWANKU
teman seranai kisah kerap menerpa kita, namun tak adalah kuat bagimu
bila yang tertoreh keadaan yang benar-benar tak pernah kau bayangkan. Tak’ akan
kuatlah hatimu bila langkah tak sanggup menopang jasadmu. Aku tunjukanlah
padamu betapa padamnya cahayaku, betapa hancurnya jalan yang tertulis buatku.
Tepatnya takdir. Aku yakin hal yang slalu kuanggap konyol itulah yang mampu menuliskan
arah langkahku. Yah, karna jelas bagiku
takdir adalah jalan kebodohan. Jalan dimana seseorang tak pernah berusaha dan
selalu percaya pada takdir yang telah menentukannya. Tapi, aku tak tahu apakah
kamu setuju denganku teman. Ini memang bukan hal yang begitu berharga dan
penting. Mungkin bagimu tak ada yang lebih berharga selain melihat orang yang
kau sayangi bahagia atau mendapatkan jalan yang slalu kalian impikan. Namun
beda bagiku, kadang kebahagian itu datang
dari kesakitan yang slalu aku terima. Aneh bukan? Yah itulah
kebahagiaanku. Kebahagiaan Yang kini tlah pergi. Terbawa angin dan sejuknya
lembah ini. pelataran akhir dari semua tanya yang ada di dunia ini. apa?,
dimana?, siapa?, kapan?, dan bagaimana?.
Yah, itulah yang slalu ada buatku. Jangankan itu semua, Satu pertanyaan
pun tak pernah terjawabkan olehku:
“Mengapa aku
dilahirkan didunia ini..???
Tak habis parau
suaraku, namun tak ada yang mampu menjawab tanyaku. Bila memang tuhan Maha mendengar, mengapa ia tak menjawab
pekikan suaraku ini. Apa karena aku harus menerima kepahitan ini, atau harus
melihat semuanya dengan tegar dan pasrah, Inikah yang ingin kau perlihatkan
padaku Tuhan, atau inikah takdir yang di bicarakan.
Tidak, bagiku ini hanya sebuah kisah dari
seribu harumnya bunga yang slalu kau tabur di pelataran dunia ini, tak ada yang
dapat aku mengerti bagaimana caranya memberikan yang terindah buat hidup. Tapi
aku tahu hidup akan menjadi lebih indah bila kita bisa memberikan kebahagian
bagi orang lain. Aku tahu itulah yang ingin KAU katakan padaku. Bukan, Tepatnya
pada dunia ini. yah, tak ada yang tahu tentang jumlah bintang yang kau tabur di
langit kala malam. Tak ada yang tahu harum angin yang terkadang menepis wajahku
dengan semilir lembut sentuhannya. Namun aku tahu itu semua adalah ciptaanMu,
itu memang hal yang tak penting, tapi mungkin kini bagiku itu adalah hal yang
memang berarti, berarti saat hal penting tersebut kini tlah berlalu, saat
semuanya telah pergi. Barulah aku sadar semua itu akan bertumpu padaMu. Dan janganlah
sesal yang menjadi arah dalam jejak langkah menujuMu. Karena aku sadar,
sesallah yang kini tertoreh bagai tersayat-sayat pisau tumpul namun sakitnya
bagai tertusuk seribu jarum.
Anginlah yang kini
menyadarkanku. Dan suara burunglah yang kini menjadi melodiku. Rasanya kaki ini
tak sanggup lagi menopang arah langkah. Tak sanggup membawa kearah di mana kini
harus kutuju. Inikah akhir, bukan !!!, hatiku membentak . ini bukan akhir, ini
adalah awal, awal yang harus ku tempuh. Mulutku tak sanggup lagi berkata,
seakan-akan kata puisi yang sering aku ucap kini sirna, hilang tak tahu kemana.
Kaku, lidah ku terasa kaku. Tak dapat kutahan, air mata lah yang kini
berbicara, mengapa kisah ini yang Kau tuliskan untukku tuhan, mengapa jalan ini
yang kau takdirkan, apa salahku, apa yang telah ku perbuat hingga kau tunjukan
ini semua. Bukan aku ingin menyalahkanMu, namun salahkah aku bila aku mengadu,
marah, dan menyesal. Hingga kau bawa aku menuju sebuah pelataran ini. tanah
tempat mereka yang telah terbaring, mata yang terpejam, mulut yang bisu, dan
raga yang berselimut tanah.
Mengapa kau hantarkan
aku kesini.. sungguh,’ sungguh aku tak kuasa menahannya. Yah, memang tak ada
yang salah disini. Hanya saja aku terlambat untuk mengatakan padanya, pada dia
yang kini menujumu, pada dia yang kini dahulu menghentikan langkah dalam
sandiwara fana ini. aku hanya ingin mengatakan padanya, aku sungguh-sungguh
menyayanginya, aku sungguh-sungguh
mencintainya, tak ada dihatiku selain dirimu tuhan, dan dirinya. Namun
mengapa kau panggil dirinya saat kata-kata puisiku yang indah kini tak sanggup
mengindahkannya, saat air mata ini jatuh hanya untuknya. Tak ada yang lebih
berarti selain kata perpisahan. Kata yang kini kuhaturkan untukmu. Aku percaya
tak ada yang terlambat selagi bisa untuk terakhir kali ku bisikan padamu,
selamat jalan..
wahai embun yang
selalu menyejukanku dikala pagi,
wahai mentari yang
selalu menyinariku di kala gelap
wahai engkau kesatria
terhebat pelindungku dikala aku takut
aku hanya ingin kau
tahu, kaulah intan permata yang tak akan pernah pudar. Meski zaman mencoba
mempendarkanmu.
*
* *
Mentari berada di
tengah peraduan, mengantarkan jejak-jejak kecil yang tersembunyi di balik
butiran pasir. Putihnya hamparan membawa berjuta kelembutan yang tertanam di
balik senja. Senja dengan ronanya seakan menghapus getir dawai hati.
Terselubung dalam benak yang berbicara. Kekosongan yang kini ku rasa, hampa.
Tanpamu sungguhku kini
hampa.
Sesalku berujung pada
saat itu, saat dimana kau dengan nada bicaramu menghentak, bersorak pada ku.
Kau bilang aku tak pantas dilahirkan, tak pantas hidup, dan tak pantas
memanggilmu. Bagimu tak ada yang indah dariku selain kau terus menghina
kekuranganku. Segala yang ku buat dengan segala yang terbaik dariku hanya
berujung pada hinamu. Salah apakah aku?, apa yang telah membuatmu sungguh
begitu enggan memelukku. Padahal aku adalah darah dagingmu. Yah, darah
dagingmu. Darah yang mengalir ini adalah darahmu. Namun tak sedikitpun pernah
kau jadikan aku seperti apa yang seharusnya aku terima. Kau anggap aku seperti
patung. sebuah hiasan nyawa yang kau yang pendam. Yang kini kau bawa bersama
kenanganmu. Kenangan tentang waktu. Dimana kau sejenak untuk mengenalkan
padaku, dimana kau ajarkan aku. Bahwa hidup memang sungguh-sungguh sangat
berarti.
Aku masih berharap
tentang bulan, aku juga masih menginginkan lantunan dongeng. Cerita dari
berjuta kisah yang kau paparkan padaku dikala malam. Namun aku sungguh lebih
berharap kau ada disini. Walau seribu
kebisuan yang kini kau suguhkan, walau hening yang kau nyayikan. Aku rela,
sungguh aku rela. Tak ada yang terindah bagiku melihat kata-katamu, dan tak ada
yang tenang bagiku selain mendengar sapaan amarahmu.
Sungguh perih hatiku..
Perih dikala malam
yang benar-benar telah membutakanku. Malam yang tak lagi mampu menahan seagala
arahku. Arah yang kini membawa awal dari penyesalan. Sesal yang mengiris
hatiku. Kau tahu mengapa? Yah, baru kala itulah aku menolak, menghujat, dan
melawan semua yang kau hadirkan untukku. Malam itulah, malam dengan bulan yang
biasanya terdiam, kini terperam dengan kabut yang mulai takut-takut
menghampiri.
Mata mereka seakan tak percaya melihatku, mata yang jadi saksi dikala
sinar ku yang mulai redup. Aku kalap,
badan ku seakan tergerak, hati kelamku jadi topang gelap pijakku.
Parang ini...
Yah, parang inilah yang menghasutku, lengan
ini lah yang terperdaya olehnya.
Bila senyum di bayar senyum, bila caci dibayar caci. Tak akan
sangguplah bila menerima apa yang telah aku terima. Namun disini yang kubalas
adalah keringat. Yang kubayar adalah peluh. Tetesan Keringat yang tercurah,
terderai dengan merahnya darah. Darah yang terjatuh di sela-sela parang. Parang
yang kini berbicara. Menyampaikan sakitnya aku. Menyampaikan pedihnya batinku,
hingga parang ini terhunus di tubuhmu, dalam gelapnya pandang kedua mataku.
*
* *
Kini aku terpaku
disini.
Bukan !!!,
tepatnya tertunduk.
Mataku kini benar-benar terpejam. Aku tak snggup lagi menahan air mata ini. tak
sanggup melihat ukiran namamu pada sebongkah batu. batu yang berdiri tegak
menghadap langit. Terselimuti tanah yang kini menjawab semuanya. Hingga Tak ada
yang marah, tak ada juga yang akan mencaciku seperti yang tlah kau lakukan.
Yang ada hanya bunga. Bunga dengan Harumnya yang membalas semua lakuku, warnanyalah
yang menjelaskan gelap mataku. Menjelaskan dari akhir kisahku. Kisah yang
kuharapkan derai air mata bahagia yang kini telah sirna dan telah pupus.
Senyum, sapa, peluk, kini Semua telah terganti oleh derasnya waktu yang terus
menghujatku. Waktu yang menertawakanku. Waktu yang terus dan terus mengejekku.
Hingga semua terjawab, dari semua pelajaran yang kau berikan. Satu hal yang
kini ku mengerti dari hidup. Tepatnya mengerti mengapa kini aku dilahirkan.
Sungguh tlah kusadari, tak ada yang lebih berarti bila kini aku ada di
sampingmu.
Yah, memang kini aku
telah ada disampingmu. Bersama nafasmu yang terus tumbuh dalam ragaku. Bersama khilaf dari beribu hanturan
kata yang ku ucap padamu.
Pada kau yang kini
terpejamkan oleh waktu,
padamu yang kini
tertidur dalam lantunan syair.
Syair terhebat dari
seorang pujangga yang slalu merindukanmu.
Maafkan aku ayah “
Sungguh durhaka anakmu ini “.
Saat tangankulah yang
mengantarkanmu kembali padaNYA.
Tuhan tak ada kuasaMU yang tak aku percaya”
Sampaikanlah maafku, bila ia kini tlah bersamaMu.
Terimalah ia disisiMu dalam buayan syair do’aku.
Dalam tidur lelap menuju jalanMu.
Karna tabir mu adalah pahlawan bagiku . . .
“ Ayah “ Bandung,
21 feb’ 11
*
* *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar